Asal Batik Mega Mendung Dan Makna Dari Batik Mega Mendung

Asal Batik Mega Mendung

Pada artikel ini akan dijelaskan tentang asal batik mega mendung.

Batik mega mendung merupakan motif kain batik yang berasal dari daerah Cirebon. Bentuk motif batik khas kota udang ini menyerupai bentuk awan-awan. Motif batik mega mendung telah menjadi sebuah ikon karya seni kota Cirebon. Motif batik mega mendung mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh motif batik di daerah penghasil batik lainnya.

Apalah arti sebuah sambungan kata dengan makna yang sama karena akan merujuk pada satu obyek yang sama.  Yaitu batik mega mendung yang memang merupakan identitas batik cirebon yang sudah mendunia. Setiap motif batik mega mendung mengandung filosofi yang tinggi terhadap para pemakainya.

Yaitu bahwasanya setiap manusia harus mampu meredam amarah dalam kondisi terpuruk atau sedih atau kondisi yang merefleksikan sebuah situasi dimana saat menerima tekanan mental kita harus mampu mengontrol sikap, tindakan, dan perilaku dalam konteks positif.

Intinya sikap bijaksana dalam kondisi apapun terutama saat situasi awan mendung (sedih, terpuruk, menderita, dan lainnya), ibarat awan yang selalu muncul ketika suasana mendung terjadi yang mampu menyejukkan suasana di sekitarnya. Setiap warna yang timbul pada setiap motif batik mega mendung merupakan representasi dari sebuah kepemimpinan yang mengayomi (bijaksana) rakyatnya.

Hal tersebut ditunjukkan pada warna biru (sifat seorang pemimpin) yang dipadu dengan gradasi warna sebanyak tujuh lapis pada ornamen awannya, untuk merepresentasikan wujud lapisan langit sebanyak tujuh, begitu juga bumi yang memiliki 7 lapisan tanah, dan 7 hari dalam seminggu. Motif batik mega mendung mungkin terlihat sederhana, namun sarat akan makna yang luhur.

Asal Batik Mega Mendung

Asal Batik Mega Mendung

Sejarah timbulnya motif mega mendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri.

Sudah Dicatat dengan jelas, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Dari salah satu benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam paham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan adalah gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep tentang awan juga berpengaruh di dunia seni rupa Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar .

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi salah satu cara masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China di dalam motif batik yang mereka bikin, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon.

Jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan, lancip dan segitiga. Asal mula batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dusun ini terletak kira-kira 4 km dari Cirebon menuju ke arah barat daya atau menuju ke arah Bandung. Oleh karena itu, sampai sekarng batik Cirebon identik dengan batik Trusmi.

Itulah ulasan mengenai asal batik mega mendung yang sekarang motif ini sedang di cari oleh para wisatawan yang datang ke indonesia. Motif ini juga tidak kalah populernya dengan model gamis batik kombinasi satin.